Jumat, 13 Juni 2014

Pengalaman Belajar (Based on Pedagogy & Andragogy)


Pedagogi, berarti cerita tentang masa SD sampe SMA. Bagi yang belum ngerti tentang pedagogi dan andragogi bisa diliat di postingan saya yang sebelumnya di sini.

Jadi, dulu tuh waktu masih jadi ''siswa''  kalo belajar semua bahannya guru yang ngasih, terutama waktu SD-SMP. Lebih diutamakan untuk menghapal pelajaran, padahal belum tentu yang dihapal itu dipahami atau nggak.  Interaksi guru-murid ibarat anak dengan orang tua, di mana guru yang mengajarkan dan mengayomi dan murid yang menerima ilmunya. Nanti di depan kelas guru yang pidato/ngasi ceramah/ngejelasin pelajaran, muridnya disuruh diam mendengarkan atau mencatat kata-kata beliau. Kalo penjelasannya asik sih enak, bisa ngerti apa yang dipelajari, tapi kalo nggak, yaaa asik sendiri, cerita sama temen sebangku, atau kalau nggak surat-suratan sama temen yang lain diujung kelas wkwkwk. Nah, di masa-masa ini saya menganggap apapun yang dikatakan oleh guru atau orang dewasa lainnya itu benar, dan selalu berpatokan kepada kata-kata orang dewasa. Gak jarang anak SD ngomong 'eh kata guru aku gini loh..' atau 'mama aku bilang itu salah' dan lain-lain.

Di awal-awal masuk SD, saya lumayan bersusah payah dalam memahami pelajaran dan meraih peringkat 10 besar, mungkin karena sekelas isinya kurang lebih 40 orang dan pasti rame luar biasa (anak SD loooh) jadi perhatian gak sepenuhnya ke guru. Namun, di penghujung SD alhamdulillah jadi anak baik budi, gak terlalu suka main-main lagi (mulai puber ehehe), lebih fokus dengerin guru, juga mungkin berlajar dari pengalaman-pengalaman lalu, kalo terima raport suka dibanding-bandingi sama kakak sendiri, jadi semangat belajar juga terpompa..Alhamdulillah bisa masuk 3 besar.

Di SMP masuk sekolah baru, Yayasan Al-Fityan School Medan. Ketemu sama guru-guru yang baik-baik. Metode ngajar tetep sama seperti di SD, lebih banyak nerima dari guru, cuma tantangannya adalah pergaulan dan persaingan. Ketemu temen yang lebih suka main-main daripada belajar, nilai akhir merosot lagi. Terakhir kena teguran wali kelas, yaa tahun2 berikutnya mencoba memperbaiki ketertinggalan. Dan Alhamdulillah masih bisa mempertahankan nilai dengan stabil, meskipun gak selalu 10 besar.

Masuk SMA di sekolah yang sama, mulai ada perubahan cara guru dalam mengajar gak selalu guru yang memberi materi, kadang juga mulai disuruh buat makalah terus presentasi ke depan. Mulai diajarkan untuk lebih mandiri dan dipersiapkan untuk masuk kuliah, tapi masih lebih banyak nerima ilmunya dari pada nyari sendiri. Interaksi guru-murid lebih seperti partner, atau lebih tepatnya teman diskusi, karena guru-guru di sana masih terbilang muda meskipun terkadang ada juga yang seperti orangtua dengan anak. Masa-masa di SMA terbilang menyenangkan dan penuh kesan, dengan berbagai suka-duka yang dialami. Nilai pun alhamdulillah baik, tidak ada kendala yang begitu berarti.

Nah, tamat SMA, akhirnya keterima di Psikologi USU. Kenapa psikologi? ya karena cita-cita saya awalnya emang pengen jadi psikolog, dan alhamdulillah lulus di situ sesuai rencana yang diharapkan. Sekarang name tag-nya udah "mahasiswa". Udah dianggap dewasa, bahasannya andragogi dooong..yap, bener-bener andragogi. Kaget? iya pastilah, yang dulunya cuma bisa nerima, nilai bagus, adem-ayem, sekarang dituntut mandiri, bahan belajarnya harus cari sendiri, pinjem buku sendiri, ngerjain gak ngerjain tugas konsekuensinya tanggung sendiri. Dosen hanya mengarahkan yang perlu diarahkan, selebihnya kita jalan sendiri. Wow lah pokoknya hehehe. Ternyata psikologi gak semudah yang saya bayangkan dulu wkwkwk. It's really a big challenge! Saya yang terkaget-kaget ini mencoba menjalani hari demi hari dengan rasa 'waah dewasa itu capek ya' hanya bisa 'yaudah jalani aja bil, ini bagian menuju keberhasilan, katanya mau jadi orang dewasa yang bijaksana, tapi baru gini aja udah nyerah. gimana sih?'. Iya bener, saya harus sabar dan berusaha terus beradaptasi dengan hal-hal baru dengan menyandang status sebagai mahasiswa ini, kan masih tahun pertama kuliah. In sya'a Allah nanti pasti bakal terbiasa, dan semoga Allah memudahkan jalannya, aamiin..
Memang belum sepenuhnya andragogi yang diterapkan, sesekali masih perlu ada pedagogi, karena kita baru bertransisi ke dewasa awal, intinya sifat kekanak-kanakan dan gak mandirinya masih kebawa-bawa. Jadi, inilah waktunya untuk menyesuaikan diri, sebelum nanti kebawa-bawa ke semester atas.

So, itulah cerita pengalaman saya menjalanai sistem pedagogi dan andragogi. Kalau ada kesalahan kata-kata saya mohon maaf..thanks for reading :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar