Jumat, 13 Juni 2014

Mengurangi Dampak Negatif Televisi Sejak Dini


Berikut merupakan rekomendasi sekaligus tips-tips untuk mengurangi dampak negatif televisi dan menigkatkan dampak positifnya kepada anak(Singer & Singer, 1987):

  1. Bantu anak mengembangkan kebiasaan menonton yang baik sejak dini.
  2. Pantau kebiasaan menonton anak dan atur apa yang harus mereka lihat. Jangan biarkan anak menonton secara acak.
  3. Cari acara yang sesuai dengan umur mereka.
  4. Berdiskusilah dengan anak tentang tema-tema televisi yang sensitif. Beri mereka kesempatan bertanya tentang acara televisi.
  5. Seimbangkan antara kegiatan membaca dan menonton. Anak dapat mencari hal-hal yang berhubungan dengan acara tersebut dengan mencari buku yang menjadi sumber bagi acara tersebut. Anak juga dapat mencari buku lain yang ditulis oleh si penulis buku tersebut.
  6. Bantu anak-anak menyusun jadwal yang seimbang, yakni acara pendidikan, aksi, komedi, seni, fantasi, dll.
  7. Tunjukkan contoh positif bagaimana hidup berdampingan dengan etnis lain, dan bagaimana keragaman membuat masyarakat menjadi lebih baik.
  8. Tunjukkan contoh positif wanita yang melakukan kegiatan yang kompeten dalam bidang rumah tangga maupun profesi.








Sumber: Santrock, J. W. (2013). Psikologi Pendidikan. Rawamangun, Jakarta: KENCANA Prenada Media Group.

Pengalaman Belajar (Based on Pedagogy & Andragogy)


Pedagogi, berarti cerita tentang masa SD sampe SMA. Bagi yang belum ngerti tentang pedagogi dan andragogi bisa diliat di postingan saya yang sebelumnya di sini.

Jadi, dulu tuh waktu masih jadi ''siswa''  kalo belajar semua bahannya guru yang ngasih, terutama waktu SD-SMP. Lebih diutamakan untuk menghapal pelajaran, padahal belum tentu yang dihapal itu dipahami atau nggak.  Interaksi guru-murid ibarat anak dengan orang tua, di mana guru yang mengajarkan dan mengayomi dan murid yang menerima ilmunya. Nanti di depan kelas guru yang pidato/ngasi ceramah/ngejelasin pelajaran, muridnya disuruh diam mendengarkan atau mencatat kata-kata beliau. Kalo penjelasannya asik sih enak, bisa ngerti apa yang dipelajari, tapi kalo nggak, yaaa asik sendiri, cerita sama temen sebangku, atau kalau nggak surat-suratan sama temen yang lain diujung kelas wkwkwk. Nah, di masa-masa ini saya menganggap apapun yang dikatakan oleh guru atau orang dewasa lainnya itu benar, dan selalu berpatokan kepada kata-kata orang dewasa. Gak jarang anak SD ngomong 'eh kata guru aku gini loh..' atau 'mama aku bilang itu salah' dan lain-lain.

Di awal-awal masuk SD, saya lumayan bersusah payah dalam memahami pelajaran dan meraih peringkat 10 besar, mungkin karena sekelas isinya kurang lebih 40 orang dan pasti rame luar biasa (anak SD loooh) jadi perhatian gak sepenuhnya ke guru. Namun, di penghujung SD alhamdulillah jadi anak baik budi, gak terlalu suka main-main lagi (mulai puber ehehe), lebih fokus dengerin guru, juga mungkin berlajar dari pengalaman-pengalaman lalu, kalo terima raport suka dibanding-bandingi sama kakak sendiri, jadi semangat belajar juga terpompa..Alhamdulillah bisa masuk 3 besar.

Di SMP masuk sekolah baru, Yayasan Al-Fityan School Medan. Ketemu sama guru-guru yang baik-baik. Metode ngajar tetep sama seperti di SD, lebih banyak nerima dari guru, cuma tantangannya adalah pergaulan dan persaingan. Ketemu temen yang lebih suka main-main daripada belajar, nilai akhir merosot lagi. Terakhir kena teguran wali kelas, yaa tahun2 berikutnya mencoba memperbaiki ketertinggalan. Dan Alhamdulillah masih bisa mempertahankan nilai dengan stabil, meskipun gak selalu 10 besar.

Masuk SMA di sekolah yang sama, mulai ada perubahan cara guru dalam mengajar gak selalu guru yang memberi materi, kadang juga mulai disuruh buat makalah terus presentasi ke depan. Mulai diajarkan untuk lebih mandiri dan dipersiapkan untuk masuk kuliah, tapi masih lebih banyak nerima ilmunya dari pada nyari sendiri. Interaksi guru-murid lebih seperti partner, atau lebih tepatnya teman diskusi, karena guru-guru di sana masih terbilang muda meskipun terkadang ada juga yang seperti orangtua dengan anak. Masa-masa di SMA terbilang menyenangkan dan penuh kesan, dengan berbagai suka-duka yang dialami. Nilai pun alhamdulillah baik, tidak ada kendala yang begitu berarti.

Nah, tamat SMA, akhirnya keterima di Psikologi USU. Kenapa psikologi? ya karena cita-cita saya awalnya emang pengen jadi psikolog, dan alhamdulillah lulus di situ sesuai rencana yang diharapkan. Sekarang name tag-nya udah "mahasiswa". Udah dianggap dewasa, bahasannya andragogi dooong..yap, bener-bener andragogi. Kaget? iya pastilah, yang dulunya cuma bisa nerima, nilai bagus, adem-ayem, sekarang dituntut mandiri, bahan belajarnya harus cari sendiri, pinjem buku sendiri, ngerjain gak ngerjain tugas konsekuensinya tanggung sendiri. Dosen hanya mengarahkan yang perlu diarahkan, selebihnya kita jalan sendiri. Wow lah pokoknya hehehe. Ternyata psikologi gak semudah yang saya bayangkan dulu wkwkwk. It's really a big challenge! Saya yang terkaget-kaget ini mencoba menjalani hari demi hari dengan rasa 'waah dewasa itu capek ya' hanya bisa 'yaudah jalani aja bil, ini bagian menuju keberhasilan, katanya mau jadi orang dewasa yang bijaksana, tapi baru gini aja udah nyerah. gimana sih?'. Iya bener, saya harus sabar dan berusaha terus beradaptasi dengan hal-hal baru dengan menyandang status sebagai mahasiswa ini, kan masih tahun pertama kuliah. In sya'a Allah nanti pasti bakal terbiasa, dan semoga Allah memudahkan jalannya, aamiin..
Memang belum sepenuhnya andragogi yang diterapkan, sesekali masih perlu ada pedagogi, karena kita baru bertransisi ke dewasa awal, intinya sifat kekanak-kanakan dan gak mandirinya masih kebawa-bawa. Jadi, inilah waktunya untuk menyesuaikan diri, sebelum nanti kebawa-bawa ke semester atas.

So, itulah cerita pengalaman saya menjalanai sistem pedagogi dan andragogi. Kalau ada kesalahan kata-kata saya mohon maaf..thanks for reading :)

Andragogi & Pedagogi


PENGERTIAN
Andragogi berasal dari bahasa yunani, "aner/andr" yang berarti dewasa, sedangkan "agogy" artinya memimpin/membimbing >>> Andragogi: ilmu dan seni membimbing orang dewasa. John D. Ingalls
memberi batasan pengertian andragogi sebagai :Proses pendidikan membantu orang dewasa
menemukan dan menggunakan penemuan-penemuan dari bidang-bidang pengetahuan yang
berhubungan dalam latar sosial dan situasi pendidikan untuk mendorong pertumbuhan dan
kesehatan individu, organisasi, dan masyarakat.


Pedagogi berasal dari kata "paed", yang berarti anak, yang kemudian dipadukan dengan kata agogy. Jadi pedagogi artinya adalah ilmu dan seni membimbing anak.

Perbedaan Andragogi dan Pedagogi
No
Asumsi
Pedagogi
Andragogi
1
Konsep tentang diri peserta didikPeserta didik digambarkan sebagai seseorang yang bersifat tergantung. Masyarakat mengharapkan para guru bertanggung jawab sepenuhnya untuk menentukan apa yang harus dipelajari, kapan, bagaimana cara mempelajarinya, dan apa hasilyang diharapkan setelah selesaiAdalah suatu hal yang wajar apabila dalam suatu proses pendewasaan, seseorang akan berubah dari bersifat tergantung menuju ke arah memiliki kemampuan mengarahkan diri sendiri, namun setiap individu memiliki irama yang berbeda-beda dan juga dalam dimensi kehidupan yang berbeda-beda pula. Dan para guru bertanggungjawab untuk menggalakkan dan memelihara kelangsungan perubahan tersebut. Pada umumnya orang dewasa secara psikologis lebih memerlukan penga- rahan diri, walaupun dalam keadaan tertentu mereka bersifat tergantung.
2
Fungsi Pengalaman peserta didikDi sini pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik tidak besar nilainya, mungkin hanya berguna untuk titik awal. Sedangkan penglaman yang sangat besar manfaatnya adalah pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari gurunya, para penulis, produsen alat-alat peraga atau alat-alat audio visual dan pengalaman para ahli lainnya. Oleh karenanya, teknik utama dalam pendidikan adalah teknik penyampaian yang berupa: ceramah, tugas baca, dan penyajian melalui alat pandang dengar.Di sini ada anggapan bahwa dalam perkembangannya seseorang membuat semacam alat penampungan (reservoair) pengalaman yang kemudian akan merupakan sumber belajar yang sangat bermanfaat bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain. Lagi pula seseorang akan menangkap arti dengan lebih baik tentang apa yang dialami daripada apabila mereka memperoleh secara pasif, oleh karena itu teknik penyampaian yang utama adalah eksperimen, percobaan-percobaan di laboratorium, diskusi, pemecahan masalah, latihan simulasi, dan praktek lapangan.
3
Kesiapan belajarSeseorang harus siap mempelajari apapun yang dikatakan oleh masyarakat, dan hal ini menimbulkan tekanan yang cukup besar bagi mereka karena adanya perasaan takut gagal, anak-anak yang sebaya diaggap siap untuk mempelajari hal yang sama pula, oleh karena itu kegiatan belajar harus diorganisasikan dalam suatu kurikulum yang baku, dan langkah-langkah penyajian harus sama bagi semua orang.Seseorang akan siap mempelajari sesuatu apabila ia merasakan perlunya melakukan hal tersebut, karena dengan mempelajari sesuatu itu ia dapat memecahkan masalahnya atau dapat menyelesaikan tugasnya sehari-hari dengan baik. Fungsi pendidik di sini adalah menciptakan kondisi, menyiapkan alat serta prosedur untuk membantu mereka menemukan apa yang perlu mereka ketahui. Dengan demikian program belajar harus disusun sesuai dengan kebutuhan kehidupan mereka yang sebenarnya dan urutan-urutan penyajian harus disesuaikan dengan kesiapan peserta didik.
4
Orientasi belajarPeserta didik menyadari bahwa pendidikan adalah suatu proses penyampaian ilmu pengetahuan, dan mereka memahami bahwa ilmu-ilmu tersebut baru akan bermanfaat di kemudian hari. Oleh karena itu, kurikulum harus disusun sesuai dengan unit-unit mata pelajaran dan mengikuti urutan-urutan logis ilmu tersebut , misalnya dari kuno ke modern atau dari yang mudah ke sulit. Dengan demikian, orientasi belajar ke arah mata pelajaran. Artinya jadwal disusun berdasarkan keterselesaian nya mata-mata pelajaran yang telah ditetapkan.Peserta didik menyadari bahwa pendidikan merupakan suatu proses peningkatan pengembangan kemampuan diri untuk mengembangkan potensi yang maksimal dalam hidupnya. Mereka ingin mampu menerapkan ilmu dan keterampilan yang diperolehnya hari ini untuk mencapai kehidupan yang lebih baik atau lebih efektif untuk hari esok. Berdasarkan hal tersebut di atas, belajar harus disusun ke arah pengelompokan pengembangan kemampuan. Dengan demikian orientasi belajar terpusat kepada kegiatannya. Dengan kata lain, cara menyusun pelajaran berdasarkan kemampuan-kemampuan apa atau penampilan yang bagaimana yang diharap kan ada pada peserta didik.
Kelemahan pedagogi: anak-anak yang memiliki bakat atau minat tertentu tidak selalu bisa menyalurkan minat/bakat mereka karena semua pelajaran sudah ditentukan oleh kurikulum, sistem sekolah, dan guru yang ada, sehingga mereka kurang mengeksplorasi diri mereka sendiri.

Kelebihan pedagogi: menyambung mata rantai kebenaran yang diajarkan dari masa lalu secara turun temurun.

Kelebihan andragogi: peserta didik tahu apa tujuannnya dalam mencari ilmu dan dapat mengembangkan diri mereka sendiri
Kekurangan andragogi: peserta didik diharapkan benar-benar mandiri dan bersikap dewasa, serta harus bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang dilakukannya. Bagi peserta didik yang belum siap dengan metode ini mungkin akan mengalami kesenjangan-kesenjangan tertentu.

Sabtu, 19 April 2014

Laporan Observasi Psi. Pendidikan: SMA SWASTA PLUS AL-AZHAR MEDAN

Tugas Psikologi Pendidikan: Observasi Sekolah
Kelompok 12

Ketua               : Nur’ainun                          (131301014)
Anggota           : Irawati Sesilia Situmeang    (131301012)
                          Putri Fatimah                     (131301036)
                          Nur Hasanah Nasution       (131301038)
                          Nabilah Farahdiba             (131301106)

A.    Identitas Sekolah
·         Nama Sekolah                  : SMA SWASTA Plus Al – Azhar Medan
·         NSS                                : 304 076 008 247
·         Status Akreditasi              : status A (Amat Baik)
·         Alamat Sekolah                : Jl. Pintu Air IV No. 214 Kwala Berkala
·         Telepon                             : (061) 836 7946
·         Website                            : al-azharmedan.com
·         Uang Sekolah                    : Rp. 1.100.000,- / bulan


B.     Uraian Aktivitas Observasi
·         Hari Pelaksanaan              : Rabu, 2 April 2014
·         Waktu Pelaksanaan          : 11.00 – 14.00
·         Pembagian Tugas             : Semua anggota mengobservasi kelas
·         Narasumber

C.     Laporan Hasil Observasi
I.       Pendahuluan
SMU Plus Perguruan Al Azhar Medan berdiri Tahun Pelajaran 1995/1996, yang awalnya merupakan kelas-kelas plus dari SMU Al Azhar Medan (Reguler).- Kegiatan pengeloaan program dan operasional belajar mengajar terpisah, untuk pengeloaan administrasi ke luar masih bersatu, tetapi pengelolan operasional kegiatan sehari-hari dipimpin oleh seorang Koordinator.
Sejak Tahun Pelajaran 2000/ 2001 SMU Plus Perguruan Al Azhar Medan, berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor : 155/105/KEP/2000, tanggal 2 Oktober 2000 telah memperoleh izin pendirian menjadi 1 (satu) Unit Sekolah Menengah Umum yang diberi nama : SMU PLUS PERGURUAN AL AZHAR MEDAN dan pada Tahun 2002 berubah nama menjadi: SMA PLUS PERGURUAN AL AZHAR MEDAN .
Selanjutnya pada Tahun 2004 SMA Plus dipercaya pemerintah untuk membuka Kelas Akselerasi (Program Percepatan) dengan diterbitkan SK dengan Nomor SK Penyelenggara Akselerasi dan Tgl : 4213 / 191 PMU / 2005 Tangal 25 Februari 2005. Instansi Penerbit SK : Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara. Kelas Akselarasi adalah Program Percepatan Belajar, proses pembelajaran yang dapat ditempuh dalam waktu 2 (dua) tahun.
Sehubungan kepercayaan masyarakat yang meningkat untuk pendidikan putera/ puterinya ke SMA Plus Al Azhar, serta penghargaan pemerintah atas prestasi SMA Plus Al Azhar Medan yang telah menghasilkan alumni yang berkwalitas; maka SMA Plus berkembang dengan mengelola kelas-kelas sebagai berikut :
          a. Kelas Plus dengan sistem Boarding School (Berasrama)
          b. Kelas Program Percepatan Belajar (PPB) / Akselerasi
          c. Kelas Internasional (Dalam Proses)
Sistim Boarding School (Berasrama), untuk kurikulum yang digunakan adalah kurikulum Depdiknas yang diperkaya serta dipadankan dengan kurikulum Departemen Agama.- Sistim perekrutan siswa baru dilakukan dengan cara seleksi yang ketat yaitu :
         a. Seleksi NEM Terbaik
         b. Test Potensi Akademik (Matematika,IPA, B.Inggris )
         c. Psikotest
         d. Wawancara dan Sosialisasi Tinggal di Asrama.
Ø  Visi Misi
  • Visi
Terdepan dalam Imtaq serta Kreatif, Konservatif dan Inovatif dalam Iptek.
  • Misi
» Memberikan pelayanan yang lebih baik dan selalu lebih baik.
» Memaksimalkan kemampuan siswa dalam Imtaq dan Iptek.
» Mengembangkan bakat istimewa dan cerdas istimewa yang dimiliki siswa.
» Mengembangkan pendidikan agama Islam sebagai sarana optimal pencapaian Iman dan Taqwa.
» Meningkatkan prestasi akademis dan non akademis untuk melahirkan lulusan yang terbaik.

Sarana Prasarana
a.      Ruang Belajar :
 Ruang belajar dengan ukuran : (9 x 7) meter persegi yang dilengkapi dengan audiovisual antara lain : In-Focus, dan perpustakaan yang dilengkapi Wi-fi sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar di ruang kelas. Ruang belajar dilengkapi dengan AC.
b.      Asrama Siswa :
 Asrama SMA Plus dengan kapasitas 150 orang dilengkapi dengan TV Warna dan area kamar Wi-fi untuk menunjang dan memberikan wawasan para siswa.- Asrama SMA Plus dirancang secara standart dan ideal. Dengan kapasitas 4 (empat) orang setiap kamar yang masing-masing kamar memiliki kamar mandi. Asrama terdiri dari 4 (tiga) unit bangunan yang terdiri 2 (dua) unit untuk putera dan 2 (dua) unit untuk puteri yang dilengkapi dengan ruang belajar/ diskusi dan ruang pengawas asrama. Selain itu untuk memudahkan berkomunikasi siswa di asrama disediakan kiosphone dan internet serta perpustakaan mini.-


c.       Laboratorium :
 Kegiatan pratikum untuk mata pelajaran fisika, kimia dan biologi dilaksanakan di laboratorium IPA Standard Nasional, baik pada pagi hari maupun pada sore hari, dijadwalkan sesuai dengan tuntutan kurikulum. Pada laboratorium IPA dilengkapi dengan alat-alat laboratorium yang baik untuk standart ilmu-ilmu dasar (growth science).-
d.      Perpustakaan :
Disamping perpustakaan kecil, SMA Plus juga memiliki perpustakaan sekolah dengan jumlah buku yang lebih banyak dan ruang pustaka yang dilengkapi Wi-fi sebagai sarana untuk menambah ilmu pengetahuan.- Perpustakaan ini dikelola secara professional oleh seorang pustakawan.-
e.       Sarana Ibadah/ Masjid :
 Sarana Ibadah/ Masjid Al Azhar merupakan pusat kerohanian hampir seluruh kegiatan ibadah. Pembinaan mental siswa dipusatkan di masjid Ar Rahman Al Azhar; kegiatan-kegiatan ini meliputi :
1. Ceramah Agama
2. Pembinaan Mental/ Malam Ibadah dan Ramadhan Center
3. Membaca Al-Quran
4. Pembelajaran Tafsir
f.       Sarana Olah Raga :
 Sarana olah raga bagi siswa SMA Plus Al Azhar dimaksudkan untuk menunjang kegiatan latihan kejasmanian; sarana ini meliputi :
1. Kolam Renang Standard Semi-Olimpiade
2. Lapangan Basket
3. Lapangan Bola Kaki
4. Lapangan Badmington
5. Lapangan Volley Ball
6. Lapangan Sepak Takraw
7. Meja Pingpong (Tenis Meja)
8. Areal kampus 7,8 Ha. yang dapat digunakan untuk kegiatan kesemaptaan dan latihan fisik lainnya.-
g.      Pusat Komputer :
 Komputer merupakan suatu pelengkap kemajuan di bidang pendidikan , seluruh siswa/i SMA Plus Al Azhar pendidikan komputer pengelolaannya ditangani oleh tenaga profesional dan dimanajerialkan pada satu unit yaitu Lembaga Kompunter Al Azhar Medan , yang melayani siswa/i perguruan Al Azhar maupun mahasiswa Universitas Al Azhar ,. serta keluarga besar Al Azhar Medan dengan program pelajaran. operator, programmer dan internet.
h.      Ruang Audio Visual :
 Ruang ini dilengkapi dengan alat-alat In-Focus, Elektrik Board, VCD, TV dan Sound system sebagai pelengkap sarana belajar klassikal.
i.        Ruang Studio Band :
Ruang ini untuk sarana penyaluran bakat siswa/siswi dibidang musik/Band serta ruangan yang dilengkapi dengan pemakaian peredam suara.

II. Landasan Teori
Zaman yang semakin maju dan membawa sistem pendidikan ikut maju seiring perubahan zaman. Sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dan media elektronik dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai suatu e-learning. Teknologi informasi yang dimaksudkan sebagai sumber materi siswa dalam mengikuti pelajaran yang dapat dilakukan secara online maupun offline. Dimana sumber yang didapat dari internet, situs-situs pendidikan( wikipedia, e-book ),DVD, CD, dan slide-slide yang dibuat untuk menyampaikan pelajaran secara singkat dengan cara mempresentasikan.
Semakin majunya peradaban zaman e-learning sudah banyak digunakan di sekolah dan juga universitas. dengan media offline berupa presentasi materi yang dibawakan oleh beberapa orang dalam sebuah kelompok. Hal tersebut juga didukung oleh sumber informasi online dimana para pengajar bisa membagikan bahan materi maupun pengarahan melalui grup-grup di jejaring sosial.Ini membuat proses belajar mengajar menjadi semakin efisien dan dinamis.
Keuntungan menggunakan e-learning dalam proses belajar mengajar diantaranya :
·         Menambah pengetahuan pelajar dalam hal teknologi yang ada
·         Melatih public speaker pelajar
·         Menjangkau wilayah geografis yang lebih luas
·         Menghemat biaya perjalanan.
·         Menghemat biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan, buku).
·         Menghemat waktu proses belajar mengajar.
·         Melatih pelajar lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan.
·          
III. Objek Observasi
            Objek yang menjadi sumber observasi adalah  siswa-siswi kelas X – XI akselerasi A SMA SWASTA Plus Al- Azhar Medan.

            IV. Laporan Observasi
·         Teori Belajar
Teori belajar yang diterapkan oleh sekolah ini sendiri yaitu Behavioral dan Kognitif Sosial. Maksudnya disini pengajar atau guru menerapkan sistem reward-punishment serta adanya self-regulated dari siswa sendiri berupa pengkontrolan diri sendiri tanpa harus diberikan reward dengan menggunakan cara-cara tertentu oleh siswa itu sendiri. Selain itu ada self- efficacy, yakni keyakinan siswa bawha mereka mampu menyelesaikan tugas dengan baik sesuai dengan yang diharapkan oleh guru.


·         Orientasi belajar
Orientasi belajar yang digunakan pada sekolah ini masih menggunakan sistem TCL (Teacher-Centered Learning)dan SCL (Student-Centered Learning) dimana menggunakan prinsip cooperative learning yaitu dalam proses pembelajaran,tugas, soal serta materi masih diberikan oleh guru dan peran siswa mengerjakan serta mencari bahan materi dan harus dipresentasikan secara berkelompok melainkan melalui pendapat pribadi dari hasil materi yang didapat. Siswa dituntut untuk bernalar sesuai pemikirannya terhadap masalah ataupun materi yang diberikan.

·         Motivasi belajar
Motivasi yang ditanamkan oleh guru sendiri kepada muridnya yaitu Motivasi Ekstrinsik, karena disini peran guru sebagai pengingat dan juga pendorong dalam meningkatkan kemauan belajar siswanya, yang merupakan suatu rangsangan dari luar, dimana dorongan yang diberikan dalam aktivitas belajar tidak secara mutlak berhubungan dengan pelajaran tersebut. Guru memotivasi siswa bahwa mereka pasti bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan.
Motivasi ekstrinsik sendiri juga dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti pemberian imbalan atau hukuman.

·         Manajemen Kelas
Setiap kelas rata-rata terdiri dari 15  orang dimana jumlah siswa yang sedikit pada suatu kelas dapat meningkatkan  daya konsentrasi dan semangat belajar serta motivasi yang diberikan. Ruangan kelas sendiri menggunakan gaya penataan auditórium, dimana  semua murid duduk menghadap guru. Bisa dikatakan meyerupai bentuk U.
           
            V. Testimoni yang didapatkan

            Ada banyak sekali kesan-kesan yang kami dapatkan di saat observasi dilakukan. Sebelum kami melakukan observasi pihak sekolah maupun siswa-siswa nya menyambut kami dengan hormat dan hangat. Para gurunya yang ramah dan murah senyum, begitu juga dengan siswa-siswanya yang sopan dan juga suka menegur. Kesan yang hangat dan sulit untuk kami lupakan, disaat terakhir kami melakukan observasi, ada rasa sedih dan berat untuk meninggalkan sekolah Al-Azhar.

here's the slide :)

Senin, 24 Maret 2014

Teori Ekologi Bronfenbrenner


Kelompok 12:
Teori ekologi Bronfenbrenner menjelaskan bagaimana sistem lingkungan memengaruhi perkembangan anak. Ada lima sistem lingkungan yang mencakup input mikro dan makro, yaitu:
  1. Mikrosistem
    Mikrosistem adalah lingkungan di mana seorang anak lebih banyak menghabiskan waktu di dalamnya dibandingkan dengan lingkungan yang lain. Dengan kata lain, mikrosistem merupakan lingkungan yang paling akrab dengan individu, seperti keluarga, teman sebaya, tetangga, teman sekolah, teman sepermainan, dll. Mikrosistem merupakan agen sosial yang paling memengaruhi kehidupan awal individu. Dalam mikrosistem, individulah yang berperan aktif mengelola lingkungannya, dan bersifat timbal balik.

  2. Mesosistem
    Merupakan gabungan dari dua mikrosistem yang saling terkait, misal, peranan orangtua murid terhadap sekolah, pengaruh lingkungan bermain dengan prestasi sekolah, pengaruh prestasi terhadap interaksi sosial, dll.

    Contoh kecil dari pengaruh lingkungan bermain terhadap prestasi sekolah: Jika seorang anak berteman dengan kawan-kawan yang lebih banyak bermain daripada belajar, maka anak tersebut bisa dipastikan jadi malas belajar karena lebih senang bermain bersama kawan-kawannya dan dapat berimbas pada prestasi sekolahnya.

    Contoh lain, orangtua yang sibuk tidak selalu bisa menghadiri pertemuan di sekolah anak, akan sulit untuk mengikuti perkembangan anak di sekolah maupun perkembangan kebijakan sekolah lainnya, sehingga kepentingan orangtua, anak, dan sekolah tidak bisa sinkron.

  3. Eksosistem
    Faktor dari luar yang secara aktif memengaruhi kehidupan individu, seperti lingkungan pekerjaan orangtua, kebijakan dewan sekolah, televisi, dll. Namun, pengaruh dari eksosistem tidak secara langsung menyentuh kehidupan anak. Misalnya, kebijakan sekolah yang membatasi kegiatan ekstrakurikuler dapat memengaruhi perkembangan kreativitas seorang anak. Jika tidak ada ekstrakurikuler yang sesuai dengan minat dan bakat anak, maka anak tersebut menjadi tidak semangat dan kurang berkembang skill-nya.

    Contoh lainnya, pengaruh televisi dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan anak dengan menjauhkan mereka dari pekerjaan rumah, mengajarkan mereka berbagai model agresi yang penuh kekerasan, dan memberi pandangan-pandangan yang tidak realistis terhadap dunia. Meskipun begitu, televisi juga dapat memberi program-program yang mengandung nilai-nilai edukatif, menambah informasi anak-anak tentang dunia diluar lingkungan dekat mereka dan memberi model-model prilaku prososial. Oleh karena itu orang tua harus selektif dalam menentukan program yang boleh ditonton oleh anak.

  4. Makrosistem
    Peran kultur (faktor etnis dan sosioekonomi) yang memengaruhi perkembangan individu. Misalnya, sesorang yang terbiasa dengan lingkungan yang homogen akan sulit untuk menerima keadaan saat ia harus masuk dalam lingkungan yang multikultur, karena ia sering dihadapkan dengan sentimen-sentimen etnis saat nilai-nilai yang ia anut selama ini bertentangan dengan nilai-nilai lingkungannya yang baru. Selain itu, jika seorang anak dibesarkan dalam setting lingkungan yang religius, dari dalam rumah, lingkungan bermain, hingga sekolah (misal: sekolah yang berbasis Islam Terpadu), maka anak tersebut bisa dipastikan akan meresapi nilai-nilai agama yang telah diajarkan lingkungannya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  5. Kronosistem
    Meliputi pemolaan peristiwa-peristiwa lingkungan dan transisi sepanjang rangkaian kehidupan dan keadaan sosiohistoris. Misalnya, dewasa ini, bisa memasuki perguruan tinggi dianggap sudah biasa dibandingkan dengan 20 atau 30 tahun yang lalu. Dengan sistem pendidikan yang sudah semakin berkembang dan banyaknya jalur untuk masuk perguruan tinggi memudahkan banyak orang untuk bisa menduduki bangku kuliah. Apalagi saat ini, jalur undangan untuk masuk perguruan tinggi negeri porsinya lebih banyak dibandingkan jalur tertulis. Siswa-siswi yang memiliki nilai yang stabil dan prestasi yang bagus, baik dari sekolah negeri, swasta, maupun SMK, berpeluang untuk mendapatkan undangan masuk PTN.

    Globalisasi dan modernisasi juga memberi dampak dalam kehidupan individu. Anak-anak sekarang pada umumnya tidak asing lagi dengan teknologi dan tidak dapat dipisahkan dari peran teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya teknologi, semua urusan dapat cepat terselesaikan. Bandingkan dengan berpuluh-puluh tahun yang lalu, saat teknologi hanya satu atau dua yang bisa ditemukan. Orang-orang hanya menggunakan peralatan manual, sehingga lebih terasa perjuangannya dan lebih menghargai hasilnya.

Kamis, 13 Maret 2014

Teknologi dan Pendidikan

Pendidikan dan Teknologi Saat Ini..

Pesatnya perkembangan teknologi saat ini turut pula berperan dalam bidang pendidikan. Keberadaan komputer dan internet bagai dua sejoli yang mewarnai maraknya arus globalisasi dan modernisasi. Saat ini sudah banyak lembaga pendidikan baik dari sekolah dasar, sekolah menengah, maupun pergururan tinggi yang mengandalkan komputer dan internet dalam pembelajarannya. Misal, tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas psikologi pendidikan di Fakultas Psikologi USU *promosi*. 

Salah satu website jurnal harian di internet baru-baru ini juga mengembangkan kelas online yang bisa menghubungkan guru dengan murid lewat dunia maya. Di website itu guru dapat memberi dan menilai tugas yang diberikan kepada murid. Penasaran? Silahkan cek Penzu Classroom.

Positif & Negatif?
Fitur-fitur dalam internet seperti email, sosial media, blog, dan lain-lain juga dapat menjadi media pembelajaran yang efektif. Adanya grup-grup pembelajaran di sosial media mempermudah kita untuk berbagi info, ilmu, makalah, dll, secara praktis dan gak perlu repot-repot. Saya merasakannya baru-baru ini, metode pembelajaran lewat internet jauh lebih mudah, menyenangkan, tidak butuh keterikatan ruang dan waktu, juga lebih hemat! baik hemat kertas, waktu, juga ongkos *eh*. Bandingkan dengan metode pembelajaran yang tradisional, kita butuh berlembar-lembar kertas, dan berjuta-juta pohon yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan kita akan pendidikan. Dengan keberadaan internet dan teknologi, masalah ini dapat diminimalisasi, Insya Allah hehe. Menurut saya, belajar menggunakan internet bisa mengembangkan kreativitas juga, karena murid bisa bereksplorasi dan mengembangkan skill menulis serta skill IT-nya.

Namun, internet dan teknologi juga memiliki kekurangan. Derasnya arus informasi dari internet juga menyebabkan masuknya informasi negatif yang kurang terkontrol, seperti pornografi, kekerasan dalam tulisan, etc. Kemudian, internet dan teknologi lainnya juga bergantung pada sistem satelit, sehingga kemungkinan terjadinya ketidakstabilan jaringan dan kehilangan data-data juga tidak dapat dihindari *teringat isu badai matahari, wallahu a'alam*, selain itu, teknologi juga membutuhkan listrik, yang berarti energi bumi juga harus dieksploitasi secara terus-menerus. Nah, hal ini dapat menyebabkan ekosistem bumi terancam. 

Teknologi juga dapat menyebabkan berkurangnya interaksi sosial secara langsung. Orang lebih suka untuk sms atau chatting daripada harus ngomong tatap muka secara langsung, ini menyebabkan kemampuan komunikasi verbal tidak begitu terasah. Teknologi juga terus berkembang, sehingga masing-masing perusahaan teknologi juga berlomba-lomba untuk meng-upgrade produknya. Tiap kali upgrade selalu menyertakan fitur yang menggiurkan yang selalu bikin orang-orang mau beli lagi dan lagi agar gak ketinggalan jaman, jadideh kalangan konsumtif dari umur-umur produktif terbentuk. Jadi intinya, sebagai pelajar, mahasiswa, dan kalangan terdidik, kita harus menggunakan teknologi secara bijaksana. Agak gak nyambung ya? yaah pahami ajadeh intinya *peace hehe*

Teknologi Informasi dan Komunikasi Sebagai Skill
Tuntutan jaman mengharuskan kita untuk tanggap akan teknologi dan informasi serta bagaimana memanfaatkannya secara efektif. Untuk itu dibutuhkan juga skill atau keterampilan yang baik dalam mengolahnya. Menurut International Society for Technology in Education (2000) dan US department of Education, telah mengembangkan standar untuk murid yang "melek teknologi". Berikut adalah ringkasannya:

Pra-taman kanak-kanak - grade 2

  • mengenalkan alat input komputer, seperti mouse, keyboard, dan remote control, juga alat output (speaker, monitor, printer, dll) dan belajar mengoperasikannya.
  • menggunakan media interaktif sebagai media pembelajaran.
  • bimbingan dari orangtua, saudara, atau guru dalam mengoperasikannya.
  • menunjukkan perilaku etis dan sosial yang positif dalam penggunaannya.
Grade 3 - 5
  • menggunakan alat input dan output secara efektif.
  • mengetahui keuntungan dan kerugian penggunaan internet.
  • menggunakan alat teknologi untuk aktivitas individual, seperti presentasi, komunikasi, menulis, dll.
  • mengakses dan memberi informasi secara luas dan efektif.
  • menggunakan sumber daya online untuk diskusi pembelajaran.
  • menggunakan software, pengumpul data, video, dan kalkulator untuk pemecahan masalah dan pembelajaran mandiri.
Grade 6 - 8
  • mampu mengatasi problem hardware dan software dalam kehidupan sehari-hari.
  • mengetahui perubahan TIK dalam kehidupan dan dampaknya terhadap global.
  • menggunakan software yang spesifik untuk mendukung pembelajaran dan riset.
  • belajar mendesain, mengembangkan, dan mempublikasikan, seperti halaman web, posting blog, membagi lagu, dll.
  • teliti dalam evaluasi relevansi, akurasi, dan bias dari informasi elektronik yang berkaitan dengan kehidupan nyata.

Grade 9 - 12

  • mengenali kemampuan dan keterbatasan dari teknologi kontemporer dan menilai keefektifannya dalam kebutuhan.
  • menggunakan sumber daya teknologi untuk mengelola iformasi personal dan profesional.
  • menggunakan informasi online secara rutin untuk keperluan sehari-hari.
  • mengaplikasikan alat teknologi untuk riset, analisis informasi, dan pemecahan masalah dalam pembelajaran.

Sekian dari saya, wassalam.. :)